Tampilkan postingan dengan label Al Jalal wa Al Jamal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Jalal wa Al Jamal. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 01, 2010

Biarkan

Biarkan,
dari Dia dan bagi Dia,
menjadi keanehan,
juga keheranan,
bukan dari kita dan bagi kita,
tetapi Dia,
yang telah jatuh cinta,
bahkan sebelum adanya waktu,
هو الحب,
هو ..

Kamis, Agustus 26, 2010

هوالحب هو


Apa kabar Mu, wahai yang paling didambakan ?
sudah tak mampu berkata-kata,
kecuali dengan kekaguman,
yang membuat akal bisu,
namun juga membuat merdeka,
atas semua yang semu,
dan tersipu malu,
ketika Engkau membuka tirai Mu.

Tersingkap wajah cantik Mu itu,
menghilangkan semua wujud,
dengan kemuliaan Mu,
seluruh tubuh hanya dapat berucap .. يا هو

Maka penantian panjang dalam kekinian,
menghilang bagai uap yang menyatu diudara,
sabar telah bersembunyi di balik hati,
cukuplah wahai keindahan mata,
cukuplah itu .. يا هو و يا هو

Semua pengetahuan dan ucapan,
dalam ramai dan diam,
hanyalah .. لا هو إلا هو

Sekarang cukuplah itu,
segalanya bagi mata,
juga bagi kumpulan huruf dan kata-kata .. هو

Selasa, Agustus 24, 2010

Tidak ada cinta tanpa kecuali, hanya bagi Nya dan dari Nya..

Tidak ada cinta kecuali hanya cinta bagi Nya, dari Nya dan untuk Nya saja,
Dia hanya bertanya, "dimanakah pengorbanan mu atas setiap pengakuan dan pernyataan mu itu ?",
tidak ada cinta itu kecuali dengan pengorbanan atas semua yang di cintai,
sungguh aneh meminta-minta dan mengiba cinta,
wajah menghadap kepada kesementaraan,
pengakuan berkata cinta karena Nya,
tidak ada karena Nya kalau bukan bagi Nya dan untuk Nya semata,
tidak mengherankan pada kenyataan Nya,
Dia membiarkan mu tenggelam dalam lautan angan-angan,
dengan dalih ayat-ayat Nya sebagai penawar dahaga,
racun air lautan yang di minum berkali-kali,
semakin dahaga yang teramat dalam,
semakin sulit hanya untuk sebuah nafas setarikan,
kebingungan menjadi mutiara keseharian,
yang menyiksa seperti tidak berkesudahan.

 "..jika memang Allah dan Rasul Nya lebih engkau cintai, pakailah bala' (ujian/cobaan) sebagai pakaian mu dan kefakiran sebagai jubahmu" - HR Bukhari/Muslim

Sabtu, Agustus 14, 2010

Wujud harapan kita..

Setiap harapan apapun kepada sesuatu yang belum tentu di anugerahkan Nya kepada kita adalah bentuk dari kebodohan kita, dan dalam sekejap kita telah lupa atas apa yang telah di anugerahkan Nya kepada kita sampai dengan saat ini, di saat yang sama kita juga mengingat Nya, bagaimana mungkin kita yang hamba hina dina ini dapat melupakan dan mengingat Nya dalam saat yang bersamaan ?

Berjalanlah dengan apa yang telah di anugerahkan Nya, terimalah semua bentuk keadaan dan kembalikan lagi semua urusan itu kepada Nya, agar kita terselamatkan oleh Rahmat Nya, tidakkah cukup bagi kita anugerah ampunan Nya, dapat mengingat Nya, juga dapat berkemampuan menerima kebenaran Nya yang haq dalam bentuk dan macam ragam nya ?.

Sungguh, kita semua hanya bisa menduga-duga, sesungguhnya bukan pada apa yang ada dan tampak di sepanjang perjalanan dalam kehidupan ini, namun kita sendirilah yang seharusnya bersama Nya aja tidak bersama selain Nya, kita lah yang sering lupa akan tujuan dan sering pula berprasangka bahwa Al Mawla telah mengangkat derajat kita dengan apa yang Dia berikan kepada kita. Dan melihat hal tersebut sebagai suatu yang dapat menjadikan kedekatan dengan Nya.


Dia lah segala-galanya, tidak ada yang lain selain Dia yang melebihi semua huruf juga kata-kata..

Senin, Juli 26, 2010

Wahai hamba !, tidak ada kebaikan bagimu sesungguhnya..

Wahai hamba !, tidak ada kebaikan bagimu sesungguhnya, selain engkau hanya mengaku-ngaku atas setiap anugerah yang telah Aku berikan kepadamu, dan tidak ada kebaikan pula bagimu sesungguhnya, kecuali engkau hanya dapat mengira-ngira dan menduga-duga atas waktu dan jarak terhadap Ku.

Bagaimana bisa engkau menginginkan keintiman dan persandingan bersama Ku, sementara engkau menginginkan dan menaruh penuh harapanmu kepada selain Ku, yang merupakan ciptaan Ku. Engkau telah membuat Ku marah dalam kecemburuan, maka Ku buat engkau menjadi gelisah dan terus memikirkan kepada apa yang telah engkau harapankan kepada selain Ku, atau Ku buat kalian merasakan kenikmatan yang seperti tiada putusnya atas harapanmu kepada selain Ku dan engkau semakin jauh dari Ku dengan hijab yang berlapis-lapis, dan setiap lapisnya akan terus bertambah sejauh-jauhnya dengan lapisan tipu daya merasa kedekatan kepada Ku.


Sesungguhnya, engkau hanya bisa mengira-ngira dan menduga-duga, lalu engkau membiarkan nafsu mu bermain dengan perkiraan dan dugaan, engkau mengucapkan Nama Ku dengan harapan agar Aku dapat memenuhi kepuasan nafsu mu ?

Kuberikan engkau kemampuan untuk meminta dan memohon, namun itu pun tidak engkau lihat dan tidak sedikitpun engkau mau bersyukur kepada Ku akan itu, jadilah engkau budak yang diperbudak, bukan oleh Ku namun oleh akal dan nafsu mu sendiri.

Semua bentuk yang engkau sebut sebagai kebaikan maupun kejahilan itu sesungguhnya adalah bala' dari Ku, ujian dari Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan penilaian terhadap sikap maupun adab mu akan bala' maupun ujian dari Ku.

Perkataan maupun ucapan mu berbeda, engkau seringkali melemparkan kotoran kepada Ku dengan perkiraan dan dugaan-dugaan, sekalipun Ku berikan engkau jubah dan kemegahan seorang raja, tetap saja engkau hanyalah mahluk yang Ku ciptakan dan hanya untuk Ku sendirian, Aku lah yang menentukan atas setiap penghakiman di setiap hembusan nafas yang engkau lakukan.

Sabtu, Juli 17, 2010

Allah berseru pada hamba-Nya..

“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!. Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!

Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-KU untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-KU besertanya!

Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-KU berbekal amal perbuatanmu, maka akan AKU sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-KU berbekal ilmu, maka akan AKU sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-KU dengan ma’rifat, maka sambutan-KU adalah hujjah, padahal hujjah-KU pastilah tak terkalahkan.

Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu), pasti akan AKU singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-KU), supaya engkau bertemu dengan AKU seorang diri.

Bila engkau menemui-KU, dan masih ada diantara AKU dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal AKU-lah yang menciptakan semua itu, dan telah AKU singkirkan semua itu darimu karena cinta-KU untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-KU—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.

Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-KU, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain-Nya), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain AKU.

Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-KU, sebab AKU-lah yang menunggumu (di luar rumah) untuk menjadi penuntunmu.

Temuilah AKU dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan AKU jaga engkau di siang dan malam harimu, akan AKU jaga pula hatimu, akan AKU jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.

Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-KU seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-KU kepadamu adalah karena kepemurahan-KU. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-KU, bukan pula ilmumu.

Kembalikan pada-KU buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-KU catatan-catatan amalmu, niscaya akan AKU buka dengan kedua tangan-KU, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-KU, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-KU.”

( Al Mawaqif wa Al Mukhatabat - An Nafiri ra )

Senin, Juli 12, 2010

Jika bukan karena Rahmat Nya..

Maka kita hanyalah mahluk dengan jubah kemunafikan yang indah dan dengan pakaian kebesaran kesombongan yang megah, hingga Iblis (syetan) pun tergoda untuk mendatangi kita, untuk kemudian pergi meninggalkan kita sendirian, dengan jubah kemunafikan dan pakaian kesombongan itu.

Seperti halnya mendaki sebuah gunung, apakah itu mudah ???, sekalipun bagi orang yang ahli dalam ilmu pendakian, apakah itu tidak membutuhkan kerelaan ?, maka pada setiap gunung itu keadaan maupun kondisi nya berbeda-beda, namun tidaklah mudah semudah itu.

Seperti hal sabar, ikhlas, tawakal dan juga ridho, itu semua adalah karunia. Bukanlah sesuatu yang dapat direkayasa oleh bahasa dan akal mahluk, berdasarkan ilmu pengetahuan yang juga merupakan karunia atau anugerah Nya.

Jika bukan karena Rahmat Nya, hancurlah kita sehancur-hancurnya dengan Keparipurnaan Nya bersama kemudahan kita sendiri yang terhiasi oleh jubah munafik dan pakaian sombong.

Namun, kita juga lebih sering asyik dengan diri sendiri dengan karunia serta anugerah Nya.



"Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?, (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," ( Al Balad 90: 12-13 )

An Nabi SAW bersabda "pakailah bala' (cobaan) sebagai jubahmu dan kefakiran sebagai pakaianmu" ( HR Bukhari )

"Syarat mencintai Allah memang dengan bala cobaan. Hal itu pulalah yang dilalui oleh nabi-nabi Allah terdahulu hingga Rasulullah saw. Maka, setiap bala cobaan disertai pula dengan kesetiaan. Agar tidak dicap hanya mengaku-ngaku cinta Allah dengan kebohongan, kemunafikan, dan riya’. Jalan (menuju) al-Haqq ’Azza wa Jalla membutuhkan kejujuran (kesungguhan-shidq)"
( As Syaikh Abdul Qadir Al Jilani qs )

Dengan Keagungan Nama Ku serta Rahmat Ku..

Kalian berfikir bahwa kalian telah mengetahui, dan dengan itu pula kalian mengira bahwa kalian telah ta'at kepada Ku. Sungguh, yang dapat kalian lakukan adalah mengira-ngira atas pengetahuan yang juga berawal pada ketidak tahuan.

Bahwa kalian hanyalah hamba, seperti bagaimana budak, kalian memperburuk diri kalian sendiri, namun kalian menginginkan keindahan Ku. Kalian menjadi pandai berkata-kata, fikiran dalam akal kalian itu seharusnya patuh tanpa syarat kepada Ku, karena bagaimana bisa kalian memiliki fikiran sedangkan akal adalah ciptaan dan pemberian Ku kepada kalian.

Bukankah sudah Aku katakan, bahwa siapa saja yang telah merasa aman terhadap siasat Ku, maka ia termasuk orang yang merugi. Merugi di sini sebagaimana kerugian yang melebihi seluruh isi jagat raya semesta penciptaan Ku, namun kalian tidak dapat melihat itu, hanya karena kalian selalu saja senang dan gembira kepada setiap anugerah yang Aku berikan kepada kalian, dan dalam sesaat kalian telah lupa kepada Ku.

Kepastian Ku, adalah bukan seperti kepastian malam dan siang, bahkan melebihi kepastian atas kematian kalian yang memang berada dalam genggaman Ku. Namun, kalian juga tidak mau kepastian Ku itu, kalian lebih memilih kepastian yang lain, sekalipun itu adalah pemberian dari Ku.

Kalian bangkrut se bangkrut-bangkrutnya, sepertinya tidak, sungguh apabila Aku menyenangi seorang hamba maka ia akan aku buat tanpa bisa berucap dan berkata-kata, ia hanya dapat melihat kepada Ku tanpa ucapa dan kata-kata.

Maka kalian menyebut pemberian Ku adalah anugerah atau ujian, kalian memilah-milah, jika kebaikan yang Aku berikan, kalian katakan itu adalah rizki atau anugerah dari Ku, namun ketika keburukan atau kemalangan yang Aku berikan, kalian katakan itu adalah ujian dari Ku. Kalian menjadi bodoh dan dungu atas itu, karena kalian lebih rela kepada hawa nafsu kalian sendiri, dan lebih mencari kenikmatan serta keuntungan baginya.

Padahal, apa yang kalian katakan anugerah maupun ujian Ku itu adalah sama saja bagi Ku, dan seharusnya sama saja bagi kalian, karena kalian adalah hamba dan Aku adalah Raja kalian !, maka terserah saja apa yang akan Aku berikan kepada kalian.

Lihatlah hanya kepada Ku, dengan mata Ku, menurut Ku atas manfaat dan mudharat bagi kalian. Bagi Ku adalah kebahagiaan dan kesenangan ketika hamba Ku melihat Ku pada setiap keadaan yang bukan pilihannya, ia hanya melihat dan terus menerus menuju kepada Ku tanpa melihat apa yang telah dan akan Aku berikan kepada nya.

Lihatlah dengan Mata Nya

Lihatlah dengan mata Nya, bukan dengan mata diri. kemanakah dan bagaimanakah kecenderungannya, ketika ada kenikmatan pada apa yang tertuangkan, dan ada kecenderungannya untuk terus meminta lagi, maka itulah hawa nafsu.

namun dengan begitu juga, setiap keadaan akan selalu ada 2 hal yang berdampingan, ada ketaatan maka pasti ada kejahilan (ketidak taatan ), agar dengan begitu si hamba tidak melihat dan berhenti pada anugerah juga tidak berdiri terpaku (memikirkan) pada ketidak taatan, karena kedua-duanya hakikatnya dapat membawa si hamba kepada keberpalingan yang halus dan samar.

Kondisi/keadaan itu berganti-gantian sesuai dengan kehendak Nya, sesuai dengan manfaat dan mudharat menurut Nya, bukan menurut ilmu pengetahuan yang ada pada si hamba. Ilmu pengetahuan adalah hujah/dasar bagi si hamba, yang juga merupakan anugerah Nya, namun bukan berarti si hamba bergantung kepada itu, itulah kenapa ada ilmul yaqin.

Singkirkan apa yang membuat khawatir kepada sesama mahluk, lenyapkan semua kepentingan, apapun yang terlihat atau terketahui sesungguhnya itu adalah kesementaraan yang berganti-gantian.

Jangan sampai si hamba bermaksud untuk mengungkapkan kebaikan, tetapi ternyata ia hanya berkubang dalam kesenangan serta kenikmatan dirinya sendiri.

Seringkali Al Mawla seperti bertanya kepada si hamba,"tidak cukupkah ampunan Ku untuk mu ?", namun itu seperti tidak terlihat dan berlalu begitu saja, karena si hamba lebih menyenangi apa yang telah ia dapatkan dari Nya.

si hamba seperti lebih banyak mengeluh dalam setiap permohonannya, kalau tidak mau dikatakan mengadu, yang ada di dalam setiap pengaduan itu hanyalah apa yang kurang berkesesuaian dengan dirinya sendiri, ia seperti tidak mampu berjalan di atas tangga keyakinan terhadap kepastian akan janji Nya yang Maha Pasti.

Si hamba lebih rela tersiksa dalam kenikmatan prasangka kepada Nya, "Aku bagaimana prasangka hamba Ku", begitulah, tetapi lihatlah lagi lebih dalam pada kata "hamba Ku", apakah ini bagi si hamba?, itu adalah Kalam Nya, bahasa Nya yang bukan bahasa menurut si hamba. Sungguh teramat memalukan bagi si hamba yang terus menerus dalam prasangka atas setiap tindakan dan perbuatannya, teramat memalukan yang tidak dapat dibayar dengan ibadah yang dilakukan oleh seluruh bangsa jin dan manusia.

kegersangan dan kegelisahan juga kenikmatan adalah bahasa si hamba karena terjajah oleh hawa nafsu serta hasrat-hasrat halus di dalamnya, ia menjadi permainan bagi penjajah, dalam pada itu juga ia menjadi buta dan tuli atas Rahmat Nya, ia selalu saja membawa serta si penjajah kedalam istana sang Maha Raja, dan ia juga mengira dan menduga, bahwa apa yang dibawanya kehadapan sang Maha Raja adalah kesenangan bagi Nya.

Selama si hamba hanya melihat dan tenggelam dalam kenikmatan dan lebih sering menghadapkan wajahnya kepada perkiraan dan dugaan, maka Tuannya akan terus membiarkannya seperti itu berulang-ulang, bagai seseorang yang berputar-putar dalam tawaf, ia dapat melihat Ka'bah namun masih dalam jarak yang dekat dengan kejauhannya sendiri.


Rabbana dholamna anfusana,
wa ilan taghfirlana wa tarhamna,
lana kunanna minal khosiriin.