Tampilkan postingan dengan label Ocehan dan senandung jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ocehan dan senandung jiwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 01, 2010

Biarkan saja terjadi..

Kemarin yang nyata,
seperti ada di genggaman,
untuk kemudian pergi dengan sendirinya,
masa depan adalah sekarang,
bukan pada apa yang tidak dapat diketahui ..

Seperti kemarin,
hanya sekilas,
untuk kemudian pergi,
ia tidak meminta atau mengatakan apa-apa,
hanya meninggalkan manisnya madu,
hadiah pemberian Maha Raja ..

Enggan bertanya mengapa,
atau jawaban atas mengapa dan bagaimana,
biarkan saja terjadi,
apa khabarmu duhai pembawa madu .. هو 

---
Ramadhan ke 22, 1431 H.
sehari menjelang 40.

Senin, Agustus 30, 2010

Kasih sayang yang telah kalah..

Terikat dan terpaksa berteriak,
sesuatu telah memotong nadi ini,
terluka dan mengeluarkan darah madu yang membanjiri hati..

Hanya dapat menyaksikan,
tanpa bisa melakukan apa-apa,
tidak ada tanya maupun jawaban,
juga prasangka atau angan-angan,
bahkan kegembiraan dan kesedihan,
seperti telah bercampur dan melarut,
menjadi suara kebisuan..

Kasih sayang yang telah kalah,
oleh kehendak sang Maha Raja,
sang Penguasa Cinta..

هو

---
Ramadhan ke 20, 1431 H

Dibeungkeut ku tali Duriat..

Dina hate kuring anjeun cicing,
Dina hate anjeun kuring cicing,
Bener-bener henteu bisa ngejat,
Dibeungkeut ku tali duriat..

Sanajan loba nu daratang,
Pating kuriling neangan lawang,
Pating kaletrok kana panto hate,
Tapi ku urang teu dipalire..

Duriat teu bisa digantian ku rupa,
Duriat teu bisa dihilian ku harta,
Duriat teu bisa di aya-aya,
Duriat datang na heunteu kapaksa..

Dikotretkeun dina hate tidituNa,
Diguratkeun dina rasa tidituNa,
Dibuka di baca ku urang duaan,
Di jaga di riksa pinuh rasa ka heman.

---
Ramadhan ke 20, 1431 H.

Minggu, Agustus 22, 2010

Dimanakah kerelaan itu ?

Dimanakah kerelaan itu ?,
majelis-majelis yang diluluh lantakkan oleh kerajaan Al Qahar,
bersimbah banjir air mata kegundahan,
ketidak relaan yang rela terhadap perbudakkan majelis rapuh,
seseorang kelana yang menghentikan langkahnya,
karena majelis amalnya menangis mengiba,
untuk tidak ditinggalkannya.

Dimanakah kerelaan itu ?
hanyalah debu-debu sisa pijakan,
panggilan untuk kembali pulang,
sang Kekasih menunggu dan hanya menunggu..

Asap hina yang bangga..

apa yang dibanggakan ?,
berapa kali kita berkata "cukup" ?,
akal bagaikan Raja bertahtakan singgasana,
lalu kata-kata juga huruf bagai rakyatnya,
ilmu pengetahuan terangkai dan tersimpul dari bagiannya,
mengurai segala sesuatu menjadi sesuatu yang bercabang-cabang,
ranting-ranting yang meninggi,
seperti juga akar yang merasuk terus dikedalaman,
ketika itu semua bertemu dengan ke Maha an,
lenyap bagai asap hina yang tiada kuasa tertiup oleh angin,
asap hina yang bangga dengan kata "cukup",
sisa pembakaran demi pembakaran,
agar mendapatkan bentuk yang teguh,
dengan keindahan tatapan keabadian.

Kamis, Agustus 19, 2010

Teramat malu..

Kasihanilah diri, curigailah ia.
dalam setiap keadaan selalu ada kesempatannya,
adalah waktu Nya yang tak berbilang,
walau sekilas ia menjulang,
adalah hamparan anugerah tak terkatakan.

Wahai para pendamba,
diantara waktu dalam keadaan itu,
menjadi hilang berlari berpaling muka,
secepat mata yang berkedip seharusnya malu,
yang teramat malu.

Tidak akan ditemukan cinta yang didambakan,
kecuali berkubang dalam angan-angan,
hanya permainan perkataan atas pikiran,
tak kentara berselimutkan keindahan,
terpenjara hasrat dengan penjaga kemunafikan,
benamkanlah dibawah telapak kaki pijakkan,
akan engkau temukan keabadian tanpa keindahan kepalsuan..

Rabu, Agustus 18, 2010

Sekilat wajah pertemuan..

Adakah kepedulian bagi para tawanan,
kasur empuk maupun angin kesejukkan,
selimut hangat maupun air setegukkan,
tetaplah ia adalah tawanan,
kepeduliannya hanyalah kepada Sang Sultan.

Ayunan pancungan pada kepala,
tidak ia mengerti sama sekali,
kebanggaan hanyalah sekedar sebutan,
ketika pancungan tersaksikan,
dan disaksikan Sang Sultan,
saling mengenal walau hanya sekilatan pancungan,
pada dirinya adalah ketidak berdayaan,
yang tersembahkan,
ada luasnya mutlak kekuasaan,
yang dikenalkan,
walau hanya dalam sekilat wajah pertemuan.

Selasa, Agustus 17, 2010

معه..

Mereka yang merdeka yang terpenjara, 
bukanlah mereka yang terpenjara dengan merdeka, 
adalah tawanan dengan mata tetap terbuka,
akan kedatangan Sang Sultan Penguasa. 

Tiada lantunan merdu beriringan, 
sambutan lirih kerinduan berdiri bersamaan, 
meratap dalam bilik-bilik penyerahan. 

Ratapan tawanan penjara, 
tanpa mahkota mempesona, 
tanpa jubah megah nan merona, 
tanpa singgasana para raja.

Sabtu, Agustus 14, 2010

Duhai apa yang tersaksikan..

Telah lama apa yang menjadi intisari,
yaitu adab yang telah menjadi usang,
kebanyakkan telah memperbudak,
atau diperbudak oleh segala sesuatu,
yang dianggap sebagai jawaban.

Segalanya menjadi terbuka dan tampak,
beduk telah di pukul berkali-kali,
menghasilkan suaranya yang khas kala dulu,
namun tidak pada hakikatnya,
ia hanyalah tinggal sisa peninggalan saja,
bukan sesuatu yang dapat membangunkan,
hati-hati yang tertidur dan lalai.

Keindahan singgasana para raja,
telah menjadi cemoohan dan gurauan belaka,
hanya olok-olok permainan yang seperti tidak habis,
walaupun terlihat sudah begitu lusuh dan koyak,
menyedihkan..

Adapula yang bermajelis dengan alam khayal,
ujian-ujian dianggap pemberian yang teramat besar,
dengan itu pula telah menjadi bahan-bahan perdagangan,
rendah dan tiada nilai..

Banyak sudah yang bernyanyi,
lagu-laguan cinta kiri dan kanan,
terurai dengan berbagai macam dugaan,
mengasyikan dan melenakan,
seiring dengan lantunan penyair sumbang,
berteriak-teriak kiri dan kanan,
sekeliling kita pun terpesona kepiawaian,
lalu tenggelam dalam rona langgam dawai petikkan,
tersenyumlah ia dengan kegembiraan kecukupan,
tanpa mau lagi berjuang,
untuk mendapatkan cahaya syahidan.

Syakwa sangka bertebaran dipinggiran jalan-jalan,
Duhai para musafir kehakikian,
kalian terpinggirkan sudah,
berada di bilik-bilik kepasrahan,
menyaksikan mereka yang berkubang dengan air kemunafikan,
dan berharap agar As Sultan memberikan ampunannya.

Diam menjadi hamparan si faqir kehakikian,
tanpa suara dan wajah yang di senandungkan,
mereka tinggal seberapa itu,
tak seberapa bagi sesiapapun itu,
hanyalah bayangan yang tertangkap mata-mata melata,
hasrat tumpang tindih bertumpuk-tumpuk,
dari yang kasar hingga yang paling halus sutra kaisar,
praduga maupun prasangka yang terbungkus,
bagai hadiah indah pemberian As Sultan.

Hingga sekarang,
pengakuan-pengakuan yang memuakkan,
terlontar dari mulut-mulut yang tidak terhiaskan adab Al Mustafa,
akhir zaman yang penuh koyakan-koyakan mushaf,
tidak ada lagi mutiara yang tersimpan dalam kerang-kerang kedalaman,
kembali kepada kunci keagungan,
yang hanya tinggal dua di satukan,
untuk dapat menyelami,
luas dan dalamnya lautan cinta dan kehambaan.

Diam,
dalam kemegahan atas semua kemegahan,
dalam keagungan atas semua keagungan.
diam yang tiada dapat di artikan,
jauh di luar apa-apa yang terdzikirkan,
melampaui dan meninggalkan segala alam penciptaan,
di luar huruf, kata dan bahasa,
yang hanya di ciptakan.

Rabu, Juli 21, 2010

Menunggu

Menunggu,
adalah bahasa ketidak tahuan,
dalam pada yang itu,
ada ketidak berdayaan.

Tiada lagi yang keinginan,
atas dunia yang terhamparkan,
menjadi bisu segala kesemuan.

Menunggu,
hanyalah kesyukuran,
diatas segala penerimaan,
atas segala kesyukuran.

Alam ini hanyalah mimpi tanpa ketiduran,
terlepas segala yang dalam jiwa rentan,
bersama-sama kekinian dan kehakikian.

Menunggu,
tersenyum dan tangisan menyatu,
tak terlukiskan,
tak tergambarkan.
tak terucapkan,
duduk dengan begitu,
saling berpandangan,
dalam penantian..

Senin, Juli 19, 2010

Sesungguhnya apa yang engkau lihat ?

Sesungguhnya apa yang engkau lihat ?, lalu setelah itu hawa nafsumu mulai memberikan komentarnya, setelah itu engkau akan pergi meninggalkan dirimu sendiri walau sesaat dan lebih menyelami apa yang kau lihat, pada saat itu pula hawa nafsumu membuka kesempatan bagi syetan untuk memberikan pendapat yang lain atas hal yang pertama tadi, begitulah seterusnya, sesuatu yang tidak engkau sadari.

Ketika semua yang engkau berikan dan yang engkau harapkan dari keperdulian menjadi asap yang membumbung dan hilang melarut dalam udara ?, untuk kemudian engkau menatap keatas dan berharap hal itu menjadi awan indah yang berarak penuh pesona, oh.. sungguh, kau telah terhalangi dari birunya langit yang megah dan membahana, walau hanya sekilas.

Apa yang diberikan sang majikan seperti tidak dilihat, ketika itu si budak malah menginginkan yang lain, yang memang belum diberikan, ketika diberikan "keta'atan", ia malah meminta "kekhusyuan", belum lagi dengan hal yang lainnya, terimalah saja wahai budak !.. dan laksanakan saja apa yang sudah diberikan kepadamu, mengapa begitu sulit untuk bersyukur barang sebentar saja sebagai tanda terima kasihmu kpd sang majikan ?

Tidaklah sama kekecewaan yang bersama Nya dengan kekecewaan atas putusnya harapan keinginan dirimu, amat sangat samarnya antara kedua itu, hingga sulit untuk dibedakan. Sudah terlampau sering ketentuan Nya ditepis dan tidak mau diterima dengan teriakan Nama Nya, adab dan pernyataan yang berbeda.

Wajah pucat pasi, berdiam dengan sunyi, hujan halus berjatuhan menyejukkan bumi, terdengar bagai nyanyian dzikir para malaikat yang menari-nari.. Ketika Engkau tampak, segala kerumitan citra Mu, menjadi teramat sederhana, bahkan cinta dan keridhoan Mu tampak teramat malu untuk datang kepadaku.

Aku tertawa ketika Engkau mengatakan bahwa Engkau bagaimana prasangkaku, bagaimana mungkin aku memiliki prasangka untuk Mu, sedangkan setiap prasangkaku adalah budak, dan Engkau adalah Maha Raja.

Aku mengejar setiap ketinggalanku atas perintah Mu, Engkau malah seperti tersenyum saja melihat itu, kala itu sejenak ku berhenti dan kulihat diriku sendiri yang carut marut dengan prasangkaku sendiri, seorang budak.

Aku seperti akan berlari dan pergi dari Mu, entah kemana saja seiring jiwaku, tetapi aku teringat bahwa aku masih belum bisa memberikan sesuatu yang paling Engkau sukai, agar dengan itu pula Engkau dapat menahanku untuk tidak berlari dan pergi..

Berusaha kuhapus jejak bekas kakiku, dan apapun yang menempel dibawahnya, agar Engkau mau menerima kedatanganku, kali kesekian aku datang dengan harapan bertemu, tetapi Engkau malah melangkah pergi, kulihat Engkau melangkah dikejauhan, akupun berteriak memanggilMu dan berkata,"..alas kakiMu tertinggal disini !"

Masih adakah yang lain?, sudah tak sanggup lagi ku memecah kepada yang lain, adalah kedustaan bagiku, ketika ku berusaha menyenangi Mu dengan membersihkan alas kaki PangeranMu, dalam pada itu aku juga melihat dan menginginkan sesuatu yang bukan bagianku, walaupun itu juga dapat menyenangi Mu.

Ketika Engkau pergi dariku, aku tidak akan memohon kepada Mu untuk kembali, tiada pantas bagiku akan hal itu, aku hanya dapat menunggu Mu di sini, tiada harapanku kecuali terserah bagaimana kemauan Mu.

Maafkanlah dan ampunilah aku, karena aku pernah terpikat eloknya yang lain, aku terpatuk dan tergigit olehnya, racunnya menjalar hingga ke kepalaku, hingga setiap waktu ku teringat akan keelokannya. Namun, dengan itu pula, aku tidak berdaya dan mengiba kepada Mu, racun yang akhirnya mematikan aku berkali-kali, dan Engkau menghidupkan aku kembali berkali-kali untuk kembali kepada kematian yang lain. Setelahnya, kematian menjadi amat sangat sederhana, bukan pula tujuan, karena itu adalah perumpamaan, tidak pula rumit dengan segala persembahan, kalaupun dahaga terus mendulang ketidakpuasan, cukuplah bagiku dengan syukurku dalam wujud mengingat Mu tanpa batas dan keadaan. Keperdulianku tak akan pernah sama dengan keperdulian Mu, bagi Mu ketidak perdulian, bagiku adalah keperdulian..

Memang begitu, orang bisu duduk makan gula-gula, terlihat orang bagai gila, hanya tersenyum saja. memang begitu, ada duduk, tidur juga berdiri, sungguh manis semanis gula-gula, sesiapa bakal tiada sangka, tak perduli siang dan malam berganti, tak perduli matahari dan rembulan saling iri, tak perduli sesiapa berucap kata mencibiri, tak perduli mata kepala cemburu dan iri, atas apa yang disaksikan oleh hati ini.

Dapatkah engkau lihat wahai kawan?, dalam kemabukkan anggur dari cawan Nya, cinta dapat menjadi dua, bagai air dan minyak yang tak akan pernah bercampuran. Yang ini berkorban untuk setiap pengorbanan, yang itu berkorban untuk setiap ketakutan. Yang ini tak perduli kedekatan atau kejauhan, yang itu tak ada kerelaan atas setiap keadaan. Yang ini menjadi keabadian, yang itu berawal dan berakhir dengan keterpisahan. Yang ini menjadikan muda abadi selalu, yang itu adalah kuburan yang menjadi debu bagi tubuh-tubuh yang indah kala dulu.

Apakah aku berada dihadapan Mu ?, aku tidak pernah tahu, apabila Engkau memang sudi akan hal itu, lindungilah aku dari ujub dan riya yang terlihat dan tidak terlihat akan hal itu.

Orang-orang bernyanyi lagu-laguan Cinta Mu, aku menjadi cemburu, akan kulempari mereka dengan batu Mu, jika saja ada yang lari ataupun marah kepadaku, maka mereka bernyanyi untuk kesenangan diri mereka, sungguh! cemburuku adalah permohonan maafku kepada mereka yang juga permohonan ampunanku kepada Mu untuk mereka, seperti aku melihat seorang isteri yang tidak mau dimadu oleh suaminya..

Aku tertawa sendirian, atas seringkalinya Engkau membodohi dan dibodohkannya aku dengan segala bentuk ujian dan siasat Mu, aku tersenyum-senyum sendirian, ketika kuingat dan kurenungkan bahwa bukankah aku juga mahluk ciptaan Mu yang bertabiat tidak pernah puas ?, maka akupun tidak akan pernah puas kepada Mu untuk hal itu, masih adakah yang lain ?

Kucumbui waktu Mu, sendirian, kukuburkan duka cita jejakku dikedalaman, demi sedikit saja dari Mu, adanya sebuah perhatian, bahwa aku tengah terluka dalam kematian atas penantian.

Ya Rabb.. jangan Engkau samakan aku dengan mereka, jangan pula tempatkan aku dalam barisan pecinta Mu, singkirkan aku dari mereka, apabila ada berkah atas amalanku yang Engkau anggap, berikanlah itu semua kepada mereka, karena aku bukanlah peminta-minta.

Engkau tidak pernah mau menjawab setiap pertanyaanku, ternyata tiadanya jawaban dari Mu merupakan jawaban bagiku, bahwa setiap pertanyaanku adalah hijabku kepada Mu, aku lebih sering memperhatikan pertanyaanku sendiri, dibanding memperhatikan Mu.

Apa yang membuatmu kagum wahai kawan ?, terkagumkan akan sesuatu diluar kemampuan, lukisan indah yang hasil perahan, terlihat bagai susu segar baru saja dituangkan, terkagumkan disetiap regukkan demi regukkan, tidak tahu menjadikan alasan, tertutupi dari sesungguhnya keindahan, berlarilah dari situ wahai kawan, lihatlah dirimu yang masih terjamakkan.

Engkau bermain hati, pada siapa saja yang Engkau kehendaki, agar Engkau diketahui, bahwa Engkau adalah pemilik tunggal setiap hati..

Apa yang kau cari wahai pencari, jika hanya satu yang kau cari, sesungguhnya kau telah mendapatkan apa yang kau cari, adalah pencarian itu sendiri, bukankah apa yang kau cari sesuai dengan prasangkamu wahai pencari.. dan prasangkamu adalah mencari maka akan terjauhi dari yang kau cari.

Hujan Mu tumpah ruah, membasahi tanah, menggeser segala diatasnya, begitulah kesederhaan Mu bersahaja, ketika Engkau tumpah ruah , membasahi asalku atas tanah, segala hal yang kutahu bergeser entah kemana arahnya, dan aku pun tersapu dengan begitu yang bersamaan dengan hujan itu.

Matikan dirimu, hapuslah jejakmu, lepaskan pengetahuanmu, walau sejenak, biarkan Dia berkata.. "datanglah kepada Ku dan sambutlah tangan Ku", untuk kemudian Dia datang padamu tanpa berteriak, menjadikanmu bodoh dalam kebijaksanaan yang terkuak.

Sabtu, Juli 17, 2010

Apa kabar mu..

Apa kabar mu, wahai yang ku damba-dambakan ?
aku sudah tak mampu berkata-kata,
kecuali dengan kekaguman,
yang membuat akal ku bisu,
namun juga membuat ku merdeka,
atas semua yang semu,
dan aku tersipu malu,
ketika engkau membuka tirai mu.

Tersingkap wajah cantik mu itu,
menghilangkan semua wujud ku,
dengan kemuliaan mu,
seluruh tubuhku hanya dapat berucap .. يا هو

Maka penantian panjang dalam kekinian ku,
menghilang bagai uap yang menyatu diudara,
sabar ku telah bersembunyi di balik hati ku,
cukuplah wahai keindahan mata ku,
cukuplah itu .. يا هو و يا هو

Semua pengetahuanku dan ucapan ku,
dalam ramai ku dan diam ku,
hanyalah .. لا هو إلا هو

Sekarang cukuplah bagi ku itu,
segalanya bagi mata ku,
juga bagi kata-kata ku.. هو

Senin, Februari 01, 2010

Ungkapan cermin..

Keindahan yang tak terkira, terurai dalam kata-kata yang bergelora, ada kerinduan dan cengkraman ketidak berdayaan, kebahagiaan dalam derai air mata, bagi mereka yang tenggelam dalam kobaran api ini, terbakar habis menjadi debu halus tak berdaya. Setelahnya, itu semua dapat menjadi tirai bagai kelambu tipis yang masih terpisah, menyisakan jarak pada cermin tujuan.

Ini hanyalah sekedar kata2, tak perlu dirisaukan, bila memang perlu utk direnungkan, apabila Mahabbah bagai istana yang diagungkan, maka itu adalah keadaan, bersifat bathil dan ciptaan yang dianugerahkan, jangan berhenti di istana keagungan, teruslah berjalan, sibaklah kelambu dalam peraduan didepan, cermin ditemukan, adalah jiwa yang terbebaskan, dalam penjara bangkai yang membusuk terpantul keseluruhan.

Kebingungan adalah kelakar, meminta-minta menjadi sandaran, "hendak kemana kau majnun ?", "layla" jawabnya. Akal pikiran & semua yang diketahui spt menjadi tak berarti apa2, jasad demam melemah, jiwa merana & meronta bagai ikan yang kehabisan air. "Hey majnun !, penawarmu disini dgn pemutusan segala saraf tumpuanmu itu, mana yang dipilih akan berujung pd kematian namun berbeda, antara kekonyolan atau kemerdekaan.."

Seperti anak kecil, karena dunia baginya adalah mainan dan permainan, baginya dunia yang telah berpindah kedalam genggaman, penjara kebosanan adalah kenyataan, dalam penantian kepulangan, Maha Raja memberikan mainan dan permainan yang berganti-gantian.

Cinta dan mati berawal keterpisahan, cinta berkorban dalam lautan api kerinduan, terbakar berkali-kali hingga debu arang kehitaman, padam ungkapan kematian, tiada lagi cinta yang terbahasakan, adalah mati terhidupkan.

Kata-kata hikmah apa lagi yang ingin disampaikan, ketika kata-katapun terangkum sudah tanpa gemetaran, air mengalir oase mata berakhiran, yang terlihat dan tampak adalah pengecualian, yang keluar dan masuk merupakan persinggahan, itu semua adalah kenisbian, kepalsuan dan kebenaran bercampuran dalam adukkan yang tanpa pengecualian, hijab kepada Mu yaa Rabbi begitu banyak berhamburan..

Ketika jalan pulang telah tertunjukkan, akan banyak pengorbanan dan penderitaan, begitu banyak pula binatang buas berkeliaran, juga taman indah beragam macam berisikan kemegahan dan keterpukauan. Namun, hari tetaplah menjadi hari, berganti-ganti, lantunan biduan dan penyair silih berganti, oooh diri.. hendak kemana lagi ? selain mengingati yang abadi tanpa kenikmatan surgawi..

Apapun bentuknya.. tiada satu kekuatanpun didunia ini yang mampu mencabut sampai keakarnya. Hanya dari Nya segalanya datang, begitu pula dengan kehendak Nya, tiada meminta, kehendak Nya yang berbicara. Berkehendak dan meminta atas kehendak, tiada mendapatkan apa-apa dari Nya kecuali mendapatkan mati dalam keadaan konyol terlara-lara..

Cari kesana dan kesini, lelah begini siksaan dalam jiwa menari, akal tersumpal bawaan kehendak diri, hati meringis meminta-minta yang tak pasti, cari kesana dan kesini, tidak ada bahasa belahan jiwa, yang mana sandaran terpilah dua, Yaa Rabbi.. sungguh bodoh teramat bodoh, Engkau berada disini tanpa waktu dan ruang bersisi, tetapi diri berlarian mencari kesana dan kesini..

Harus terbakar habis hingga kepadaman, tidak ada kepadaman, sebelum keterbakaran yang berulang-ulang, hingga debu halus berterbangan, tak terlihat lagi mata telanjang, hingga kehidupan atas kematian terjelang, tiada lagi peduli pesona menerjang, dalam hitam berkubang duka atas keindahan keberpalingan..

aku menjadi gelap, tenggelam dalam hitam pekat, kulihat penuh manusia sesak pengap, dalam kubangan keinginan yang bersekat-sekat.. Yaa Rabb, izikan aku bersyukur dengan kesyukuranMu kepadaku, izinkan aku memohon dengan permohonanMu kepadaku, izinkan aku berkeinginan dengan keinginanMu kepadaku..

Keinginan ini berlapis hingga yang paling tipis, terlihat menerawang pandang menggoda, pengharapan perjumpaan dengan dambaan semakin miris, mencari arti pengharapan yang tergoda, seperti pengetahuan tak kuasa bicara.. Lihatlah Musa yang mengharapkan berjumpa, tak bersuara diam seribu bahasa, melihatpun tiada.

Ketika syukur tidak lagi terucap, anugerah dan makna telah larut tanpa suara, wajah yang bersujud terlihat meratap, kehambaan menjulang diatas semua anggur cinta, tiada berharap perjumpaan terhadiahkan mata saling menatap..

aku cemburu kepada jasadku, aku cemburu kepada jiwaku, aku cemburu kepada hatiku, aku cemburu kepada akalku, aku cemburu kepada apa yang meliputi diriku, aku cemburu.. karena semua itu mendapatkan anugerah dariNya, sementara aku hanya mendapatkan ketidak tahuan dan di bisakan untuk suatu permohonan..

Yaa Rabb.. Yaa Malik.. lihatlah itu siapapun dimanapun mereka berada, lihatlah sekilas aku yang tidak berada dimana-mana..

aku sudah tidak disini tidak juga disana, segala apa yang tertuang hanyalah ungkapan semata, dari apa yang terlihat dan terbaca, kemungkinan membawa pesan bermakna, atau juga sekedar perlintasan tanpa apa-apa. setiap waktu bergerak, setiap itu pula keadaan berganti-ganti semarak, begitulah bahasa perumpaan, coba saja t...anyakan, bagaimana mengutarakan sesuatu yang melampaui segala kemabukkan..

Sebuah dialog, "apakah yang kau lihat ?", "kamu", "tidakkah kau melihat keselilingmu ?", "tidak, aku tidak melihat apa-apa selain kamu", "bagaimana dengan dirimu sendiri, apakah itu juga tidak kau lihat ?","tidak.. aku tidak melihat diriku dari kemarin, yang kulihat hanyalah kebodohan dan harapan kepadamu"..

Berseberangan, keterpisahan, kejenuhan, kepiluan.. ah.. kulihat Sultan Mekkah dan Madinah dapat tertawa kegembiraan, karena jasad mulianya berjalan diatas tanah kefanaan, tetapi tidak dengan jiwanya yang hanya tahu kesyukuran..

Setelah mengenalmu dambaanku, umurku menjadi tak lebih dari hitungan jari, baru saja kemarin kepadamu aku berlari, tetapi engkau wahai dambaanku, ada dalam setiap kemarin, kini dan esok hari..

Aah.. kopi hangat dinginnya pagi, datang bersama wajah sang isteri, akalku menyambut dengan senyuman, terucapkan terima kasih sebagai kesyukuran, hari ini begini, engkau wahai isteriku yang hingga kini, janganlah pandangi aku dengan kopi hangatmu, tetapi pandangi saja Sang Pencipta uap hangat kopi buatanmu itu..

Dijalan ini, ada hidup kemudian mati, lalu mati kemudian hidup kembali, sungguh mengherankan dari apa yang teranugerahkan dari Nya, melewati totalitas akal yang juga dari Nya, tolong jelaskan saja, bagaimana hidup yang takut akan keterpisahan, bersamaan dengan itu mati untuk sebuah penyatuan..

Apalagi ??.. selain tangisan yang dapat terurai, hiburan hanyalah sementara berganti-gantian, beginilah yang harus diterima kehambaan, tanpa bisa menolak alih bertanya mengapa, lihatlah Sultan Mekkah dan Madinah bersahaja tak tampak lara, sesungguhnya menangis dikedalaman lautan tak terlukiskan, melampaui mengapa..

Minggu, Mei 31, 2009

Hanyalah ungkapan saja yang akan berlalu..

"Bersemangatlah wahai para pejuang diri !, karena semangat adalah syarat. Telah terdapat contoh yang nyata pada orang-orang sebelumnya, para Anbiya hingga Khatamul Anbiya. Bahwa, merekalah yang meniti jalan kemuliaan dalam kepedihan dan keperihan, sebelum mendapatkan CintaNya maka itu adalah keharusan dan keniscayaan.."

"Bagaimana mungkin telah merasa aman terhadap apa yang telah didapatkan, bahwa itu semua sudah menjadi bekal yang cukup dalam perjuangan dimedan pertempuran dunia ini ? sedangkan musuh ini dapat berubah dalam berbagai macam bentuk, bahkan dapat berubah menjadi diri ini sendiri, menguasainya secara perlahan-lahan dan samar. Hingga 'mudharat' menjadi tampak 'manfaat', begitu pula dengan sebaliknya.."

"Maka, ini semua hanyalah ungkapan saja dan menjadikannya sementara untuk berlalu begitu saja. Pengertian dan kepahaman tidaklah akan cukup kecuali mendapatkan makna daripadanya melalui ketercambukan yang berkali-kali dengan merasakannya.."

"Ilmu dan segala yang engkau mengerti akannya seperti sebuah anak panah yang terbaik diantara anak panah yang ada. Ia dapat digunakan untuk membawa surat cinta kepada Sang Kekasih. Namun, mengapa itu seperti tidak tersampaikan dan tidak menancap pada pintu rumah Nya ?, mungkin karena engkau hanya selalu memperhatikan anak panah itu, tetapi tidak pernah memperhatikan bagaimana dirimu dihadapan Sang Kekasih.."