Maka kita hanyalah mahluk dengan jubah kemunafikan yang indah dan dengan pakaian kebesaran kesombongan yang megah, hingga Iblis (syetan) pun tergoda untuk mendatangi kita, untuk kemudian pergi meninggalkan kita sendirian, dengan jubah kemunafikan dan pakaian kesombongan itu.
Seperti halnya mendaki sebuah gunung, apakah itu mudah ???, sekalipun bagi orang yang ahli dalam ilmu pendakian, apakah itu tidak membutuhkan kerelaan ?, maka pada setiap gunung itu keadaan maupun kondisi nya berbeda-beda, namun tidaklah mudah semudah itu.
Seperti hal sabar, ikhlas, tawakal dan juga ridho, itu semua adalah karunia. Bukanlah sesuatu yang dapat direkayasa oleh bahasa dan akal mahluk, berdasarkan ilmu pengetahuan yang juga merupakan karunia atau anugerah Nya.
Jika bukan karena Rahmat Nya, hancurlah kita sehancur-hancurnya dengan Keparipurnaan Nya bersama kemudahan kita sendiri yang terhiasi oleh jubah munafik dan pakaian sombong.
Namun, kita juga lebih sering asyik dengan diri sendiri dengan karunia serta anugerah Nya.
"Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?, (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan," ( Al Balad 90: 12-13 )
An Nabi SAW bersabda "pakailah bala' (cobaan) sebagai jubahmu dan kefakiran sebagai pakaianmu" ( HR Bukhari )
"Syarat mencintai Allah memang dengan bala cobaan. Hal itu pulalah yang dilalui oleh nabi-nabi Allah terdahulu hingga Rasulullah saw. Maka, setiap bala cobaan disertai pula dengan kesetiaan. Agar tidak dicap hanya mengaku-ngaku cinta Allah dengan kebohongan, kemunafikan, dan riya’. Jalan (menuju) al-Haqq ’Azza wa Jalla membutuhkan kejujuran (kesungguhan-shidq)" ( As Syaikh Abdul Qadir Al Jilani qs )
Senin, Juli 12, 2010
Dengan Keagungan Nama Ku serta Rahmat Ku..
Kalian berfikir bahwa kalian telah mengetahui, dan dengan itu pula kalian mengira bahwa kalian telah ta'at kepada Ku. Sungguh, yang dapat kalian lakukan adalah mengira-ngira atas pengetahuan yang juga berawal pada ketidak tahuan.
Bahwa kalian hanyalah hamba, seperti bagaimana budak, kalian memperburuk diri kalian sendiri, namun kalian menginginkan keindahan Ku. Kalian menjadi pandai berkata-kata, fikiran dalam akal kalian itu seharusnya patuh tanpa syarat kepada Ku, karena bagaimana bisa kalian memiliki fikiran sedangkan akal adalah ciptaan dan pemberian Ku kepada kalian.
Bukankah sudah Aku katakan, bahwa siapa saja yang telah merasa aman terhadap siasat Ku, maka ia termasuk orang yang merugi. Merugi di sini sebagaimana kerugian yang melebihi seluruh isi jagat raya semesta penciptaan Ku, namun kalian tidak dapat melihat itu, hanya karena kalian selalu saja senang dan gembira kepada setiap anugerah yang Aku berikan kepada kalian, dan dalam sesaat kalian telah lupa kepada Ku.
Kepastian Ku, adalah bukan seperti kepastian malam dan siang, bahkan melebihi kepastian atas kematian kalian yang memang berada dalam genggaman Ku. Namun, kalian juga tidak mau kepastian Ku itu, kalian lebih memilih kepastian yang lain, sekalipun itu adalah pemberian dari Ku.
Kalian bangkrut se bangkrut-bangkrutnya, sepertinya tidak, sungguh apabila Aku menyenangi seorang hamba maka ia akan aku buat tanpa bisa berucap dan berkata-kata, ia hanya dapat melihat kepada Ku tanpa ucapa dan kata-kata.
Maka kalian menyebut pemberian Ku adalah anugerah atau ujian, kalian memilah-milah, jika kebaikan yang Aku berikan, kalian katakan itu adalah rizki atau anugerah dari Ku, namun ketika keburukan atau kemalangan yang Aku berikan, kalian katakan itu adalah ujian dari Ku. Kalian menjadi bodoh dan dungu atas itu, karena kalian lebih rela kepada hawa nafsu kalian sendiri, dan lebih mencari kenikmatan serta keuntungan baginya.
Padahal, apa yang kalian katakan anugerah maupun ujian Ku itu adalah sama saja bagi Ku, dan seharusnya sama saja bagi kalian, karena kalian adalah hamba dan Aku adalah Raja kalian !, maka terserah saja apa yang akan Aku berikan kepada kalian.
Lihatlah hanya kepada Ku, dengan mata Ku, menurut Ku atas manfaat dan mudharat bagi kalian. Bagi Ku adalah kebahagiaan dan kesenangan ketika hamba Ku melihat Ku pada setiap keadaan yang bukan pilihannya, ia hanya melihat dan terus menerus menuju kepada Ku tanpa melihat apa yang telah dan akan Aku berikan kepada nya.
Bahwa kalian hanyalah hamba, seperti bagaimana budak, kalian memperburuk diri kalian sendiri, namun kalian menginginkan keindahan Ku. Kalian menjadi pandai berkata-kata, fikiran dalam akal kalian itu seharusnya patuh tanpa syarat kepada Ku, karena bagaimana bisa kalian memiliki fikiran sedangkan akal adalah ciptaan dan pemberian Ku kepada kalian.
Bukankah sudah Aku katakan, bahwa siapa saja yang telah merasa aman terhadap siasat Ku, maka ia termasuk orang yang merugi. Merugi di sini sebagaimana kerugian yang melebihi seluruh isi jagat raya semesta penciptaan Ku, namun kalian tidak dapat melihat itu, hanya karena kalian selalu saja senang dan gembira kepada setiap anugerah yang Aku berikan kepada kalian, dan dalam sesaat kalian telah lupa kepada Ku.
Kepastian Ku, adalah bukan seperti kepastian malam dan siang, bahkan melebihi kepastian atas kematian kalian yang memang berada dalam genggaman Ku. Namun, kalian juga tidak mau kepastian Ku itu, kalian lebih memilih kepastian yang lain, sekalipun itu adalah pemberian dari Ku.
Kalian bangkrut se bangkrut-bangkrutnya, sepertinya tidak, sungguh apabila Aku menyenangi seorang hamba maka ia akan aku buat tanpa bisa berucap dan berkata-kata, ia hanya dapat melihat kepada Ku tanpa ucapa dan kata-kata.
Maka kalian menyebut pemberian Ku adalah anugerah atau ujian, kalian memilah-milah, jika kebaikan yang Aku berikan, kalian katakan itu adalah rizki atau anugerah dari Ku, namun ketika keburukan atau kemalangan yang Aku berikan, kalian katakan itu adalah ujian dari Ku. Kalian menjadi bodoh dan dungu atas itu, karena kalian lebih rela kepada hawa nafsu kalian sendiri, dan lebih mencari kenikmatan serta keuntungan baginya.
Padahal, apa yang kalian katakan anugerah maupun ujian Ku itu adalah sama saja bagi Ku, dan seharusnya sama saja bagi kalian, karena kalian adalah hamba dan Aku adalah Raja kalian !, maka terserah saja apa yang akan Aku berikan kepada kalian.
Lihatlah hanya kepada Ku, dengan mata Ku, menurut Ku atas manfaat dan mudharat bagi kalian. Bagi Ku adalah kebahagiaan dan kesenangan ketika hamba Ku melihat Ku pada setiap keadaan yang bukan pilihannya, ia hanya melihat dan terus menerus menuju kepada Ku tanpa melihat apa yang telah dan akan Aku berikan kepada nya.
Lihatlah dengan Mata Nya
Lihatlah dengan mata Nya, bukan dengan mata diri. kemanakah dan bagaimanakah kecenderungannya, ketika ada kenikmatan pada apa yang tertuangkan, dan ada kecenderungannya untuk terus meminta lagi, maka itulah hawa nafsu.
namun dengan begitu juga, setiap keadaan akan selalu ada 2 hal yang berdampingan, ada ketaatan maka pasti ada kejahilan (ketidak taatan ), agar dengan begitu si hamba tidak melihat dan berhenti pada anugerah juga tidak berdiri terpaku (memikirkan) pada ketidak taatan, karena kedua-duanya hakikatnya dapat membawa si hamba kepada keberpalingan yang halus dan samar.
Kondisi/keadaan itu berganti-gantian sesuai dengan kehendak Nya, sesuai dengan manfaat dan mudharat menurut Nya, bukan menurut ilmu pengetahuan yang ada pada si hamba. Ilmu pengetahuan adalah hujah/dasar bagi si hamba, yang juga merupakan anugerah Nya, namun bukan berarti si hamba bergantung kepada itu, itulah kenapa ada ilmul yaqin.
Singkirkan apa yang membuat khawatir kepada sesama mahluk, lenyapkan semua kepentingan, apapun yang terlihat atau terketahui sesungguhnya itu adalah kesementaraan yang berganti-gantian.
Jangan sampai si hamba bermaksud untuk mengungkapkan kebaikan, tetapi ternyata ia hanya berkubang dalam kesenangan serta kenikmatan dirinya sendiri.
Seringkali Al Mawla seperti bertanya kepada si hamba,"tidak cukupkah ampunan Ku untuk mu ?", namun itu seperti tidak terlihat dan berlalu begitu saja, karena si hamba lebih menyenangi apa yang telah ia dapatkan dari Nya.
si hamba seperti lebih banyak mengeluh dalam setiap permohonannya, kalau tidak mau dikatakan mengadu, yang ada di dalam setiap pengaduan itu hanyalah apa yang kurang berkesesuaian dengan dirinya sendiri, ia seperti tidak mampu berjalan di atas tangga keyakinan terhadap kepastian akan janji Nya yang Maha Pasti.
Si hamba lebih rela tersiksa dalam kenikmatan prasangka kepada Nya, "Aku bagaimana prasangka hamba Ku", begitulah, tetapi lihatlah lagi lebih dalam pada kata "hamba Ku", apakah ini bagi si hamba?, itu adalah Kalam Nya, bahasa Nya yang bukan bahasa menurut si hamba. Sungguh teramat memalukan bagi si hamba yang terus menerus dalam prasangka atas setiap tindakan dan perbuatannya, teramat memalukan yang tidak dapat dibayar dengan ibadah yang dilakukan oleh seluruh bangsa jin dan manusia.
kegersangan dan kegelisahan juga kenikmatan adalah bahasa si hamba karena terjajah oleh hawa nafsu serta hasrat-hasrat halus di dalamnya, ia menjadi permainan bagi penjajah, dalam pada itu juga ia menjadi buta dan tuli atas Rahmat Nya, ia selalu saja membawa serta si penjajah kedalam istana sang Maha Raja, dan ia juga mengira dan menduga, bahwa apa yang dibawanya kehadapan sang Maha Raja adalah kesenangan bagi Nya.
Selama si hamba hanya melihat dan tenggelam dalam kenikmatan dan lebih sering menghadapkan wajahnya kepada perkiraan dan dugaan, maka Tuannya akan terus membiarkannya seperti itu berulang-ulang, bagai seseorang yang berputar-putar dalam tawaf, ia dapat melihat Ka'bah namun masih dalam jarak yang dekat dengan kejauhannya sendiri.
Rabbana dholamna anfusana,
wa ilan taghfirlana wa tarhamna,
lana kunanna minal khosiriin.
namun dengan begitu juga, setiap keadaan akan selalu ada 2 hal yang berdampingan, ada ketaatan maka pasti ada kejahilan (ketidak taatan ), agar dengan begitu si hamba tidak melihat dan berhenti pada anugerah juga tidak berdiri terpaku (memikirkan) pada ketidak taatan, karena kedua-duanya hakikatnya dapat membawa si hamba kepada keberpalingan yang halus dan samar.
Kondisi/keadaan itu berganti-gantian sesuai dengan kehendak Nya, sesuai dengan manfaat dan mudharat menurut Nya, bukan menurut ilmu pengetahuan yang ada pada si hamba. Ilmu pengetahuan adalah hujah/dasar bagi si hamba, yang juga merupakan anugerah Nya, namun bukan berarti si hamba bergantung kepada itu, itulah kenapa ada ilmul yaqin.
Singkirkan apa yang membuat khawatir kepada sesama mahluk, lenyapkan semua kepentingan, apapun yang terlihat atau terketahui sesungguhnya itu adalah kesementaraan yang berganti-gantian.
Jangan sampai si hamba bermaksud untuk mengungkapkan kebaikan, tetapi ternyata ia hanya berkubang dalam kesenangan serta kenikmatan dirinya sendiri.
Seringkali Al Mawla seperti bertanya kepada si hamba,"tidak cukupkah ampunan Ku untuk mu ?", namun itu seperti tidak terlihat dan berlalu begitu saja, karena si hamba lebih menyenangi apa yang telah ia dapatkan dari Nya.
si hamba seperti lebih banyak mengeluh dalam setiap permohonannya, kalau tidak mau dikatakan mengadu, yang ada di dalam setiap pengaduan itu hanyalah apa yang kurang berkesesuaian dengan dirinya sendiri, ia seperti tidak mampu berjalan di atas tangga keyakinan terhadap kepastian akan janji Nya yang Maha Pasti.
Si hamba lebih rela tersiksa dalam kenikmatan prasangka kepada Nya, "Aku bagaimana prasangka hamba Ku", begitulah, tetapi lihatlah lagi lebih dalam pada kata "hamba Ku", apakah ini bagi si hamba?, itu adalah Kalam Nya, bahasa Nya yang bukan bahasa menurut si hamba. Sungguh teramat memalukan bagi si hamba yang terus menerus dalam prasangka atas setiap tindakan dan perbuatannya, teramat memalukan yang tidak dapat dibayar dengan ibadah yang dilakukan oleh seluruh bangsa jin dan manusia.
kegersangan dan kegelisahan juga kenikmatan adalah bahasa si hamba karena terjajah oleh hawa nafsu serta hasrat-hasrat halus di dalamnya, ia menjadi permainan bagi penjajah, dalam pada itu juga ia menjadi buta dan tuli atas Rahmat Nya, ia selalu saja membawa serta si penjajah kedalam istana sang Maha Raja, dan ia juga mengira dan menduga, bahwa apa yang dibawanya kehadapan sang Maha Raja adalah kesenangan bagi Nya.
Selama si hamba hanya melihat dan tenggelam dalam kenikmatan dan lebih sering menghadapkan wajahnya kepada perkiraan dan dugaan, maka Tuannya akan terus membiarkannya seperti itu berulang-ulang, bagai seseorang yang berputar-putar dalam tawaf, ia dapat melihat Ka'bah namun masih dalam jarak yang dekat dengan kejauhannya sendiri.
Rabbana dholamna anfusana,
wa ilan taghfirlana wa tarhamna,
lana kunanna minal khosiriin.
Langganan:
Komentar (Atom)

