Selasa, Agustus 17, 2010

معه..

Mereka yang merdeka yang terpenjara, 
bukanlah mereka yang terpenjara dengan merdeka, 
adalah tawanan dengan mata tetap terbuka,
akan kedatangan Sang Sultan Penguasa. 

Tiada lantunan merdu beriringan, 
sambutan lirih kerinduan berdiri bersamaan, 
meratap dalam bilik-bilik penyerahan. 

Ratapan tawanan penjara, 
tanpa mahkota mempesona, 
tanpa jubah megah nan merona, 
tanpa singgasana para raja.

Sabtu, Agustus 14, 2010

Duhai apa yang tersaksikan..

Telah lama apa yang menjadi intisari,
yaitu adab yang telah menjadi usang,
kebanyakkan telah memperbudak,
atau diperbudak oleh segala sesuatu,
yang dianggap sebagai jawaban.

Segalanya menjadi terbuka dan tampak,
beduk telah di pukul berkali-kali,
menghasilkan suaranya yang khas kala dulu,
namun tidak pada hakikatnya,
ia hanyalah tinggal sisa peninggalan saja,
bukan sesuatu yang dapat membangunkan,
hati-hati yang tertidur dan lalai.

Keindahan singgasana para raja,
telah menjadi cemoohan dan gurauan belaka,
hanya olok-olok permainan yang seperti tidak habis,
walaupun terlihat sudah begitu lusuh dan koyak,
menyedihkan..

Adapula yang bermajelis dengan alam khayal,
ujian-ujian dianggap pemberian yang teramat besar,
dengan itu pula telah menjadi bahan-bahan perdagangan,
rendah dan tiada nilai..

Banyak sudah yang bernyanyi,
lagu-laguan cinta kiri dan kanan,
terurai dengan berbagai macam dugaan,
mengasyikan dan melenakan,
seiring dengan lantunan penyair sumbang,
berteriak-teriak kiri dan kanan,
sekeliling kita pun terpesona kepiawaian,
lalu tenggelam dalam rona langgam dawai petikkan,
tersenyumlah ia dengan kegembiraan kecukupan,
tanpa mau lagi berjuang,
untuk mendapatkan cahaya syahidan.

Syakwa sangka bertebaran dipinggiran jalan-jalan,
Duhai para musafir kehakikian,
kalian terpinggirkan sudah,
berada di bilik-bilik kepasrahan,
menyaksikan mereka yang berkubang dengan air kemunafikan,
dan berharap agar As Sultan memberikan ampunannya.

Diam menjadi hamparan si faqir kehakikian,
tanpa suara dan wajah yang di senandungkan,
mereka tinggal seberapa itu,
tak seberapa bagi sesiapapun itu,
hanyalah bayangan yang tertangkap mata-mata melata,
hasrat tumpang tindih bertumpuk-tumpuk,
dari yang kasar hingga yang paling halus sutra kaisar,
praduga maupun prasangka yang terbungkus,
bagai hadiah indah pemberian As Sultan.

Hingga sekarang,
pengakuan-pengakuan yang memuakkan,
terlontar dari mulut-mulut yang tidak terhiaskan adab Al Mustafa,
akhir zaman yang penuh koyakan-koyakan mushaf,
tidak ada lagi mutiara yang tersimpan dalam kerang-kerang kedalaman,
kembali kepada kunci keagungan,
yang hanya tinggal dua di satukan,
untuk dapat menyelami,
luas dan dalamnya lautan cinta dan kehambaan.

Diam,
dalam kemegahan atas semua kemegahan,
dalam keagungan atas semua keagungan.
diam yang tiada dapat di artikan,
jauh di luar apa-apa yang terdzikirkan,
melampaui dan meninggalkan segala alam penciptaan,
di luar huruf, kata dan bahasa,
yang hanya di ciptakan.

Wujud harapan kita..

Setiap harapan apapun kepada sesuatu yang belum tentu di anugerahkan Nya kepada kita adalah bentuk dari kebodohan kita, dan dalam sekejap kita telah lupa atas apa yang telah di anugerahkan Nya kepada kita sampai dengan saat ini, di saat yang sama kita juga mengingat Nya, bagaimana mungkin kita yang hamba hina dina ini dapat melupakan dan mengingat Nya dalam saat yang bersamaan ?

Berjalanlah dengan apa yang telah di anugerahkan Nya, terimalah semua bentuk keadaan dan kembalikan lagi semua urusan itu kepada Nya, agar kita terselamatkan oleh Rahmat Nya, tidakkah cukup bagi kita anugerah ampunan Nya, dapat mengingat Nya, juga dapat berkemampuan menerima kebenaran Nya yang haq dalam bentuk dan macam ragam nya ?.

Sungguh, kita semua hanya bisa menduga-duga, sesungguhnya bukan pada apa yang ada dan tampak di sepanjang perjalanan dalam kehidupan ini, namun kita sendirilah yang seharusnya bersama Nya aja tidak bersama selain Nya, kita lah yang sering lupa akan tujuan dan sering pula berprasangka bahwa Al Mawla telah mengangkat derajat kita dengan apa yang Dia berikan kepada kita. Dan melihat hal tersebut sebagai suatu yang dapat menjadikan kedekatan dengan Nya.


Dia lah segala-galanya, tidak ada yang lain selain Dia yang melebihi semua huruf juga kata-kata..